Friday, May 22, 2020

Jika Pohon Pisang Tak Lagi Berdaun, Positif Besok Lebaran

Gambar Burasa'
Media Bulukumba – “Jika Pohon Pisang Tak Lagi Berdaun, Positif Besok Lebaran”, Istilah anak muda ini dihubungkan dengan tradisi Suku Bugis, dimana warga akan mengambil daun pisang satu hari sebelum lebaran untuk melakukan tradisi turun temurun salah satunya yaitu tradisi Ma’Burasa’.


Walaupun ada pandemik seperti sekarang yang membuat Ramadhan tahun ini berbeda, tetapi makanan yang selalu dinanti-nanti oleh penikmat dan penggemarnya ini yaitu tradisi Ma’Burasa’  tidak akan pernah lekang, karena telah menjadi tradisi yang sudah melekat dan turun-temurun, bahkan kini telah menjadi tagline "Ada Buras Kah?".

Ma’burasa’ adalah bahasa lokal (Bugis dan Makassar) yang berarti membuat burasa’. Burasa’ sendiri adalah sebuah kuliner tradisional yang terbuat dari beras yang dicampur santan dan biasanya diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara khusus. setelah itu, burasa’ lalu dikukus.

Kuliner ini merupakan kuliner wajib dan biasanya ada pas hari hari besar atau acara tertentu  diantara kuliner lain seperti ketupat, nasu likku dan lain-lain yang biasa dibuat dan disajikan kepada handai taulan yang datang massiara (berkunjung) pada masyarakat Bugis dan Makassar pada hari raya.

Tradisi ma’burasa’ juga sarat dengan nilai solidaritas dan kekeluargaan. Suatu kebiasaan pada masyarakat di kampung, yaitu saling membagi burasa’

Mereka tahu bahwa tetangganya juga membuat burasa’, tetapi tetap saja saling berbagi dengan menu yang sama. Sebenarnya bukan burasa’-nya, tetapi keinginan untuk melakukan berbagi sesama warga sekampung.

Seiring berjalannya waktu, ma’burasa’ kini hanya dilakukan oleh keluarga inti saja. Ibu hanya melibatkan anak-anak perempuannya pada kegiatan ma’burasa’

Beruntung di masa kecil, saya masih mendapati keramaian ma’bburasa’ bersama orang tua, saudara dan kerabat. Terdapat obrolan-obrolan ringan hingga senda gurau disela-sela membungkus dan mengikat burasa’.

Proses mengikat tidak semudah yang diliat, tapi cukup sulit dilakukan. Beras yang sudah di beri santan lalu dibungkus dengan daun pisang, kemudian diikat sampai padat, dan tidak mudah terurai. Kadang kala, dua atau tiga tangkup burasa’ diikat menjadi satu. Jika tidak terampil mengikat, maka model burasa’ dapat berubah bentuk. 

Parahnya kalu daun pisang pembungkusnya dapat sobek. Jika daunnya sobek, maka air dapat masuk ke dalam burasa’ ketika dimasak. Hasilnya, burasa’-nya akan kurang baik dan cepat basi.

Pada masa pandemik saat ini akan dirasa berbeda bagi anak rantau yang rindu akan kenikmatan burasa' dan kebersamaan keluarga pada hari raya.

#StayHome #AdaBurasKah





0 komentar

Post a Comment