Wednesday, August 5, 2020

Otoritas Moral Sebagai Solusi Distorsi Pengabdian Masyarakat dan Sosial


MEDIA BULUKUMBA
Winardi Dwi Putra (Mahasiswa FH UBB/ Aktivis Pemuda Tempilang)
Media Bulukumba - Spekulasi masyarakat tidak dapat lepas dari stigma negatif terhadap para aktivis maupun gerakan-gerakan yang berfokus pada pengabdian masyarakat. Adapun diantaranya para aktivis dan penggerak gerakan sosial pengabdian masyarakat adalah pemuda maupun  mahasiswa yang seharusnya masih dianggap peduli. Hal ini terjadi karena adanya disorientasi dan distorsi serta degradasi terhadap hakikat serta esensi dari gerakan pengabdian sosial dalam lingkungan masyarakat. Serta mengkangkangi elaborasi yang seharusnya dilakukan dengan penetrasi kemajuan.

Stigma negatif ini tidak hanya dialami oleh perseorangan tetapi juga dialami oleh beberapa organisasi sosial. Problematika adanya stigma negatif masyarakat ataupun kecurigaan buruk terhadap gerakan pengabdian masyarkat muncul semenjak berkurangnya otoritas moral para pemuda yang bergerak dengan tujuan sosial oriented  beralih kepada presensi oriented .  Sosial oriented itu sendiri adalah tujuan yang mengedepan sosial secara keseluruhan dari berbagai sisi. Sedangkan presensi oriented adalah pengejawantahan dari tujuan yang mengharapkan pengakuan atas sebuah kehadiran subjek/kelompok penggerak serta keberadaanya yang iringi dengan finalisasi eksistensi dan popularitas pribadi ataupun kelompok.


Tidak heran, kebanyakan hal yang terjadi diantaranya adalah aktivitas sosial dengan animo kepemudaan/ mahasiswa melahirkan pragmatisme yang memanifestasi penunjangan terhadap eksistensi pribadi maupun kelompok. Distorsi yang menghadirkan eksistensi dari aktivitas pengabdian sosial akan digunakan oleh sebagian orang maupun kelompok untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Seperti halnya hegemoni eksistensi berlebih seringkali digunakan sebagai modal utama terjun dalam eskalasi dunia politik praktis. Selain itu eksistensi berlebih juga memungkinkan seseorang maupun kelompok lebih mendapat empati dalam kolosalisasi berbisnis.

Adapun hakikat dan esensi dari sebuah pengabdian sosial di lingkungan masyarakat diantaranya upaya diredusir problematika sosial di lingkungan masyarakat. Serta adanya diskursus dalam meningkatkan mutu sosial masyarakat. Upaya intensif yang seharusnya dimanifestasi menanggulangi kesenjangan sosial. Hingga bahkan upaya-upaya komplementer dilakukan untuk mensejahterahkan sosial masyarakat melalui pengabdian masyarakat. Secara singkat pengabdian dipelopori oleh berbagai paham dan dorongan diantaranya aktualisasi dari kegelisahan serta nurasi bagi kepemudaan dan Tri Dharma perguruan tinggi bagi mahasiswa. Hingga bahkan dipelopori oleh tujuan resmi organisasi/kelompok maupun konstelasi kelompok tertentu dengan tujuan luhur.

Hakikat dengan pandangan yang essensial terutama ditengah kecendrungan kecanggihan teknologi dan kemajuannya membuat berbagai bentuk pencitraan dengan pragmatisme yang ada. Ole karena itu pemuda dan mahasiswa teracuni oleh momok jahat yang menimbulkan kemacetan tersendiri dalam pola sistematis berpikir pemuda dan mahasiswa. Sudah sewajarnya jika hal tersebut mempengaruhi sensitivitas dan kemampuan memposisikan diri pemuda dan mahasiwa menjadi bergeser.

Tentunya iya atau tidak, sangat dibutuhkan solusi dalam menanggulangi stigma negatif yang mempengaruhi masyarakat hingga terjadi public distrust terhadap aktivitas/gerakan. Lantaran pengabdian sosial yang tatkala hanya dianggap sebagai pencitraan seseorang maupun kelompok semata. Demikian sangat diharapkan para pemuda dan mahasiswa sebagai agent of change dan iron stock haruslah memiliki kesadaran dan karakter. Dengan otoritas moral serta semangat mengelaborasi secara progresif dan masif. Dengan menghindari kemacetan berpikir demi renkontruksi berperilaku dan bergerak yang humanisme. Secara definitif agent of change memposisikan pemuda/mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dianggap mampu memberikan perubahan secara signifikan. Sedangkan iron stock memposisikan pemuda/mahasiswa sebagai generasi penggerak dan penerus bangsa yang memimpikan masa depan cerah dan sejahtera.

Bahkan sangat diharapkan lingkungan masyarakat dapat memberikan stimulus bergerak dan berpikir yang lebih visioner demi kemajuan bersama. Terutama hal yang menjadi inti adalah pemuda dan mahasiswa mampu memposisikan diri, stigma tetaplah stigma, siapapun bebas berprasangka dan berspekulasi buruk terharap perseorangan maupun kelompok. Hanya saja kembali kepada bagaimana sebagai generasi yang kaya akan intlektualitas memposisikan diri dan menyikapinya.

Winardi Dwi Putra (Mahasiswa FH UBB/ Aktivis Pemuda Tempilang)




0 komentar

Post a Comment