Wednesday, October 7, 2020

Aliansi Mahasiswa, Pemudah Dan Buruh Melakukan Aksi Penolakan UU Cipta Kerja

Aliansi Mahasiswa, Pemudah Dan Buruh Melakukan Aksi Penolakan UU Cipta Kerja

 Media Bulukumba. Bulukumba Kamis 08 Oktober 2020

Penolakan UU Cipta kerja (ciptaker) omnibus law yang disuarakan di berbagai daerah di seluruh Indonesia, termasuk dikabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi selatan

Aksi Demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa, pemuda, masyarakat, serikat buruh (Pmii, Hmi, imm, Semmi, Ipm, lidik pro, laskar merah putih Bulukumba ,Karang taruna Bulukumba,pembaru bulumba,fron pemuda Bulukumba, Tani muda sipakatau, Badan komunikasi pemuda Remaja masjid Indonesia, Gonrongers Bulukumba,


Melakukan aksi di dua titik yaitu perempatan teko yang menjadi titik kumpul dan di depan kantor DPRD kabupaten Bulukumba sebagai pusat orasi, aksi yang dihadiri oleh ribuan massa bahkan menghadang truk dan kontainer guna dijadikan panggung orasi,  


 Aksi yang menuntutut untuk dibatalkannya undang-undang cipta kerja (ciptaker) omnibus law dan dijegal sampai gagal.

 

Dimana UU tersebut dinilai tidak pro terhadap buruh dan masyarakat yang mana mengkebiri hak-hak buruh, suara penolakan terus diteriakkan "Tolak undang cilaka" menuntut untuk disegerakan rapat penolakan UU omnibus law,


Delapan praksi di DPRD kabupaten Bulukumba melakukan rapat sesegera mungkin dan aliansi mahasiswa, pemuda, serikat buruh menduduki gedung DPRD sembari menunggu hasil rapat 


Ketua DPRD kabupaten Bulukumba H. Rijal, Sos. menegaska bahwa DPRD kabupaten Bulukumba menolak UU cipta kerja (ciptaker) omnibus law dan selaku wakil rakyat, bersama dengan rakyat.

" Rancangan Undang-undang cipta kerja ini ditetapkan dimalam hari ketika kita tertidur lelap sehingga kami di tingkat kabupaten tidak mengetahui dan tidak ada informasi dari tingkat pusat bahwa ini yang terjadi, sehingga pada kesempatan siang hari ini, kami menyampaikan kepada seluruh masyarakat Bulukumba dan seluruh rekan-rekan aliansi, bahwa kami secara pribadi dan rekan-rekan menolak rancangan undang-undang tersebut."  Ujar ketua DPRD kabupaten bulukumba

Sunday, August 16, 2020

New Normal Spirit Mengenang 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia

Senin 17 Agustus 2020



Media Bulukumba karang taruna lima sulapa Desa Gattareng Kec. Gattareng kabupaten Bulukumba melaksanakan pengibaran bendera dalam rangka turun memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia  yang ke 75 Tahun.


Dilapangan harapan jaya desa Gattareng, kecamatan Gantarang kabupaten Bulukumba, Dengan tema New Normal Spirit, kegiatan ini merupakan puncak dari serangkaian acara yang dilakukan dalam rangka mengenang 75 tahun kemerdekaan republik Indonesia.


 Sebelumnya pada tanggal 15 Agustus 2020 dilakukan pembukaan dan melakukan perlombaan antar dusun di desa gattareng seperti lomba olahraga, kesenian, keagamaan  diantaranya volly mini, sepak takraw, sepak bola menggunakan daster, baca puisi, nyanyi  solo, nyanyi solo

Tari pepe'-pepe' karangtaruna lima sulapa


 Adzan,pildacil, sholawat badar, Baca surah pendek (juz amma) lomba keagamaan ini di ikuti oleh tingkat sekolah dasar (SD) adapun lomba dengan skala umum diantaranya festival layang-layang, tarik tambang, sepeda indah, larik  rumah sehat 


Dan acara penutupan insyaallah akan berakhir hari ini 18 Agustus 2020, kegiatan ini tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menyediakan tempat cuci tangan dan peserta dibatasi, peserta hanya perwira tiap dusun yang ada di desa gattareng


lomba sepak bola daster


" Diera globalisasi ini dimana pergaulan bebas remaja sudah sangat sulit dikontrol yang mana sering kita temui dan kita lihat dimedia massa banyaknya kasus yang dilakukan oleh para remaja seperti pembegalan dan Penyalagunaan Narkoba 


Yang tentu tindakan tersebut selain daripada merugikan diri sendiri tentu juga merugikan orang lain sehingga harapan saya kedepan dengan hadirnya Karang taruna di Desa mampu menjadi wadah untuk menampung pemuda-pemuda Desa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki


sehingga dapat mengalihkan perhatian pemuda kearah yang lebih positif dan dengan potensi yang dimiliki tentu diharap mampu menciptakan innovasi2 baru yang nantinya bisa membantu  pemerintah Desa dalam hal menjalankan program pembangunan Desa". Ujar Salahuddin S.pi anggota BPD desa gattareng (ketua bidang penyelenggaraan pemerintahan dan pembinaan kemasyarakatan Desa)

Dengan terselenggaranya kegiatan peringatan HUT RI KE 75 yang diselenggarakan oleh Pemuda Karang Taruna Desa merupakan bukti bahwa pemuda Desa mampu berbuat dan membuktikan diri dengan segala kreatifitas yang dimiliki dan ini perlu menjadi perhatian pemerintah Desa agar menjadi perhatian agar pemuda karang taruna diberikan,

ruang dan lebih meningkatkan, pos anggaran terkhusus pada pembinaan kepemudaan agar teman-teman Karang Taruna nantinya dapat menjalankan program kerja yang direncanakan dengan maksimal dan tentu dengan adanya ruang dan anggaran yang memadai, sehingga


 Pemuda Karang taruna juga dapat menjalankan kegiatan yang sesuai dengan perananannya sebagai organisasi sosial kemasyarakatan" jelas nya 


Adnan Yusuf selaku ketua panitia berharap " momentum ini selain menjadi ajang untuk memperingati perjuangan pahlawan,  juga menjadi ajang silaturahmi pemuda yang ada di desa dan nantinya menjadi ajang untuk mencari potensi-potensi pemuda yang ada dan mengembangkan minat bakatnya." 

Diapun menambahkan "kemerdekaan melawan penjajah memang telah usai, tapi perjuangan melawan ketidak pedulian  dari diri sendiri masih berlanjut, dan kemerdekaan bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi tanda untuk berjuang lebih keras"


Wednesday, August 5, 2020

Otoritas Moral Sebagai Solusi Distorsi Pengabdian Masyarakat dan Sosial


MEDIA BULUKUMBA
Winardi Dwi Putra (Mahasiswa FH UBB/ Aktivis Pemuda Tempilang)
Media Bulukumba - Spekulasi masyarakat tidak dapat lepas dari stigma negatif terhadap para aktivis maupun gerakan-gerakan yang berfokus pada pengabdian masyarakat. Adapun diantaranya para aktivis dan penggerak gerakan sosial pengabdian masyarakat adalah pemuda maupun  mahasiswa yang seharusnya masih dianggap peduli. Hal ini terjadi karena adanya disorientasi dan distorsi serta degradasi terhadap hakikat serta esensi dari gerakan pengabdian sosial dalam lingkungan masyarakat. Serta mengkangkangi elaborasi yang seharusnya dilakukan dengan penetrasi kemajuan.

Stigma negatif ini tidak hanya dialami oleh perseorangan tetapi juga dialami oleh beberapa organisasi sosial. Problematika adanya stigma negatif masyarakat ataupun kecurigaan buruk terhadap gerakan pengabdian masyarkat muncul semenjak berkurangnya otoritas moral para pemuda yang bergerak dengan tujuan sosial oriented  beralih kepada presensi oriented .  Sosial oriented itu sendiri adalah tujuan yang mengedepan sosial secara keseluruhan dari berbagai sisi. Sedangkan presensi oriented adalah pengejawantahan dari tujuan yang mengharapkan pengakuan atas sebuah kehadiran subjek/kelompok penggerak serta keberadaanya yang iringi dengan finalisasi eksistensi dan popularitas pribadi ataupun kelompok.


Tidak heran, kebanyakan hal yang terjadi diantaranya adalah aktivitas sosial dengan animo kepemudaan/ mahasiswa melahirkan pragmatisme yang memanifestasi penunjangan terhadap eksistensi pribadi maupun kelompok. Distorsi yang menghadirkan eksistensi dari aktivitas pengabdian sosial akan digunakan oleh sebagian orang maupun kelompok untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Seperti halnya hegemoni eksistensi berlebih seringkali digunakan sebagai modal utama terjun dalam eskalasi dunia politik praktis. Selain itu eksistensi berlebih juga memungkinkan seseorang maupun kelompok lebih mendapat empati dalam kolosalisasi berbisnis.

Adapun hakikat dan esensi dari sebuah pengabdian sosial di lingkungan masyarakat diantaranya upaya diredusir problematika sosial di lingkungan masyarakat. Serta adanya diskursus dalam meningkatkan mutu sosial masyarakat. Upaya intensif yang seharusnya dimanifestasi menanggulangi kesenjangan sosial. Hingga bahkan upaya-upaya komplementer dilakukan untuk mensejahterahkan sosial masyarakat melalui pengabdian masyarakat. Secara singkat pengabdian dipelopori oleh berbagai paham dan dorongan diantaranya aktualisasi dari kegelisahan serta nurasi bagi kepemudaan dan Tri Dharma perguruan tinggi bagi mahasiswa. Hingga bahkan dipelopori oleh tujuan resmi organisasi/kelompok maupun konstelasi kelompok tertentu dengan tujuan luhur.

Hakikat dengan pandangan yang essensial terutama ditengah kecendrungan kecanggihan teknologi dan kemajuannya membuat berbagai bentuk pencitraan dengan pragmatisme yang ada. Ole karena itu pemuda dan mahasiswa teracuni oleh momok jahat yang menimbulkan kemacetan tersendiri dalam pola sistematis berpikir pemuda dan mahasiswa. Sudah sewajarnya jika hal tersebut mempengaruhi sensitivitas dan kemampuan memposisikan diri pemuda dan mahasiwa menjadi bergeser.

Tentunya iya atau tidak, sangat dibutuhkan solusi dalam menanggulangi stigma negatif yang mempengaruhi masyarakat hingga terjadi public distrust terhadap aktivitas/gerakan. Lantaran pengabdian sosial yang tatkala hanya dianggap sebagai pencitraan seseorang maupun kelompok semata. Demikian sangat diharapkan para pemuda dan mahasiswa sebagai agent of change dan iron stock haruslah memiliki kesadaran dan karakter. Dengan otoritas moral serta semangat mengelaborasi secara progresif dan masif. Dengan menghindari kemacetan berpikir demi renkontruksi berperilaku dan bergerak yang humanisme. Secara definitif agent of change memposisikan pemuda/mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dianggap mampu memberikan perubahan secara signifikan. Sedangkan iron stock memposisikan pemuda/mahasiswa sebagai generasi penggerak dan penerus bangsa yang memimpikan masa depan cerah dan sejahtera.

Bahkan sangat diharapkan lingkungan masyarakat dapat memberikan stimulus bergerak dan berpikir yang lebih visioner demi kemajuan bersama. Terutama hal yang menjadi inti adalah pemuda dan mahasiswa mampu memposisikan diri, stigma tetaplah stigma, siapapun bebas berprasangka dan berspekulasi buruk terharap perseorangan maupun kelompok. Hanya saja kembali kepada bagaimana sebagai generasi yang kaya akan intlektualitas memposisikan diri dan menyikapinya.

Winardi Dwi Putra (Mahasiswa FH UBB/ Aktivis Pemuda Tempilang)




Wednesday, July 15, 2020

ASN RSUD Sultan Daeng Radja Dibacok Secara Brutal Oleh Sopirnya Sendiri

Kamis, 16/07/2020
Media Bulukumba - Terjadi aksi penganiayaan di perempatan teko, kecamatan Ujung Bulu, kabupaten Bulukumba pada pukul 05:45 WITA ( kamis, 16/07/2020)

Aksi sadis penganiayaan atau pembacokan yang menyebabkan meninggalnya H. Ahmad Jayadi, SKM salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan daeng Radja kabupaten Bulukumba.

Peristiwa ini bermula saat korban mengantar istrinya ke pasar cekkeng, kasuara untuk berbelanja, kemudian beliau dan istrinya hendak pulang namun tiba-tiba dari arah belakang pelaku yang berinisial SF  alias RD (53)

Menarik korban dan melakukan aksi penganiayaan secara brutal menggunakan sebilah parang, bahkan setelah korban tersungkur pun pelaku masih melancarkan aksinya dengan berulang kali menghujamkan parangnya ke korban.

Dari peristiwa tersebut korban mengalami luka robek pada bagian kepala, punggung, dan tangan kanan yang diduga akibat sayatan dari parang atau benda tajam yang digunakan pelaku

Kasat Reskrim polres Bulukumba AKP Berry Junana putra, saat dikonfirmasi oleh rekan media, membenarkan terjadinya peristiwa penganiayaan yang menyebabkan kematian tersebut dan sementara masih dalam penyelidikan.

"Pelaku saat ini sudah kita amankan untuk dimintai keterangan terkait pembunuhan sadis ini, dan kami sementara melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi mata dan mengamankan barang bukti guna proses lebih lanjut" ujar AKP Berry

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Daeng Radja kabupaten Bulukumba untuk mendapatkan penanganan, namun nyawa korban tak dapat di selamatkan, hingga meninggal dunia akibat luka yang dialami

Dari hasil pemeriksaan pelaku mengaku tega menghabisi nyawa korban, karena kesal dan sakit hati karena gajinya sebagai sopir pribadi selama dua tahun tak kunjung dibayarkan.

Tuesday, July 14, 2020

Sidang Isbat Pernikahan Massal di Desa Gattareng

Sidang Isbad Pernikahan Massal di MTs Al Huda, Selasa 14 Juli 2020
Media Bulukumba - Pemerintah Desa Gattareng Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba, menginisiasi acara sidang isbad pernikahan massal sehingga pihak pengadilan agama turun langsung ke desa Gattareng melakukan sidang diluar pengadilan agama, Selasa 14 Juni 2020.

Dalam kegiatan yang berlangsung pukul 08:30 ini pun dihadiri oleh ibu camat Gantarang, kepala desa Gattareng, pemerintah desa ( pemdes) tokoh agama, dan Babinsa

Dan kegiatan di ikuti oleh 160 warga, yang dibagi menjadi dua tahap, pada hari ini sebnyak 155 dan tahap kedua pada hari Sabtu 5 orang di kantor desa, dari lima dusun se-desa Gattareng,

yang mana tetap menerapkan Protokol  kesehatan sesuai anjuran pemerintah seperti memakai masker, mencuci tangan dan juga dibagi menjadi tiga titik untuk menghindari kerumunan

Sidang Isbad Pernikahan Massal di SDN 204 Dusun Bonto Bayang
yakni di SDN 204 dusun bayang-bayang sebanyak 19 orang , SDN 275 dusun Bonto Bayang sebanyak 18 orang dan Mts Al-Huda mannaungi sebanyak 19 orang .

Sidang Isbad Pernikahan Massal di SDN 275 Dusun Bonto Bayang
Hal ini bertujuan untuk membantu dan memberikan kemudahan kepada masyarakat  yang telah melaksanakan pernikahan secara sah namun belum tercatat dalam dokumen negara atau buku nikah.

Abdul Hamid, SE (kepala desa Gattareng)
"Berharap dengan adanya acara ini dan saya Anggap acara pada hari ini sukses, mudah-mudahan kedepanya kita bisa mempermudah masyarakat yang sekiranya belum ada"

Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah sebagai pelayan atau abdi masyarakat, dan kegiatan ini merupakan kegiatan yang pertama kali di desa gattareng pada khususnya, dan pertama di kecamatan gantarang dan kindang pada umumnya.

Beliau pun menambahkan
"Apa yang kita laksanakan pada hari ini dapat berkelanjutan, dan mempermudah masyarakat dalam hal pengurusan buku nikah" ujar kepala desa gattareng Abd.Hamid, SE


"Saya selaku pemuka agama memberikan apresiasi yang dan penghargaan yang setinggi-tingginya karena ini termasuk memudahkan masyarakat, dalam hal administrasi" ujar Imam desa gattareng H. Usman Hamid, S.Ag




Beliau pun berharap
"Dengan adanya buku nikah yang diakui oleh Islam, dan diakui negara atau konstitusi dan sekitarnya ada urusan tidak ada lagi masalah, sebagai tokoh agama sangat terbantu dengan adanya inisiasi pemerintah desa sehingga pihak pengadilan bersedia melakukan sidang isbad di desa, dan ini termasuk trobosan baru dari kepala desa" jelasnya.




Friday, July 3, 2020

Kodim 1411 Bulukumba Gelar Pembinaan Peta Jarak Jaring Teritorial


Media Bulukumba - Komando distrik militer (kodim) 1411 Bulukumba menggelar kegiatan pembinaan peta jarak jaring teritorial di aula Makodim 1411 Bulukumba, Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu, kabupaten Bulukumba (Jumat 03 Juli 2020).

Kegiatan yang digelar tersebut dikemas dalam bentuk silaturahmi dengan para mitra karib Babinsa, jajaran kodim 1411 Bulukumba dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dalam situasi pandemi ini selain melakukan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan kedatangan mitra karib atau partner kerja di bagi menjadi dua gelombang gelombang pertama dihadiri oleh mitra karib dari Koramil 01 Gangking dan 04 Ujung Bulu, dan gelombang kedua dihadiri oleh 30 orang mitra karib dari Koramil 02 Tanete, Koramil 03 Kajang, Koramil 05 Bonto bahari, Koramil 06 Bonto Tiro, dan Koramil 07 Herlang.

Mitra karib ini dibentuk karena dilatar belakangi bahwa setiap manusia, dalam hal ini prajurit mempunyai keterbatasan, dan para Babinsa jajaran Kodim 1411 Bulukumba tidak setiap saat berada di wilayah binaannya masing-masing, namun setiap saat dituntut  harus tau kejadian di wilayahnya dan secara mereka harus temukan dan selanjutnya harus di laporkan.

Di keterbatasan inilah perlu dipilih mitra karib sebagai rekan kerja para Babinsa yang adah di wilayah yang terdiri dari beragam profesi seperti petani, pedagang, supir, guru, pengusaha, tokoh masyarakat dan berbagai profesi lainya.



Diharapkan dengan adanya mitra karib bisa membantu tugas-tugas para Babinsa, dalam rangka temu cepat dan lapor cepat seperti halnya bencana alam, aksi ataupun kasus yang berkaitan dengan kriminalitas, yang berkaitan ideologi, politik, budaya, dan kehidupan sosial lainya

Dalam sambutannya Dandim 1411 Bulukumba letkol Arm Joko Triyanto S.Pd, menuturkan "Beliau mengucapkan terimakasih kepada mitra kerja karena telah menyempatkan hadir dan sama-sama menjaga dan melaksanakan protokol kesehatan".

Beliau pun menambahkan "kami khususnya TNI yang berbeda di wilayah atau dikesatuan teritorial itu mempunyai dua tugas pokok, yang jelas tugas pokok satuan TNI adalah melaksanakan operasi militer perang dan operasi militer selain perang, militer perang sudah jelas kami TNI sebagai komponen utama, kemudian yang personil yang sudah dibekali dengan latihan dasar militer sebagai komponen cadangan dan sebagai unsur yang ada dimasyarakat sebagai unsur pendukung, siapa saja termasuk bapak ibu sekalian, petani berarti mendukung logistik pangannya, dokter mendukung dalam hal mengobati, intinya semunya memiliki andil sekecil apapun, bahkan anak-anak kita yang bersekolah pun punya andil salah satunya yah belajar, cari ilmu sebanyak mungkin."

Tidak hanya itu diakhir acara terdapat pembinaan Kemensos cegah tangkal radikalisme/separatisme di wilayah kodim 1411/ Bulukumba dengan tema "merawat kebinekaan untuk tangkal radikalisme/separatisme dalam bingkai NKRI" yang dibawakan oleh ustadz Ikhwan Bahar ketua dai muda kabupaten Bulukumba



"Yang radikal itu bukan tentaranya tapi kelompok masyarakat, makanya kita yang harus saling sharing nanti informasi pencegahannya itu dilakukan oleh TNI"

Ini pentingnya kita memahami radikalisme, " jadi pemahamannya adalah kalau radikal itu berpikir dengan jernih dengan cerdas, dalam itu namanya radikal, tapi kalau sudah radikalisme itu sudah berbentuk gerakan dan paham, nah ini perlunya dipahami dan dibedakan ditengah-tengah masyarakat."ujar ustadz Ikhwan Bahar.


Sunday, June 28, 2020

PRAGMATISME PEMUDA INDONESIA

MEDIABULUKUMBA.COM
Suhargo (Pemuda Bangkabelitung)
Media Bulukumba - Sejarah panjang bangsa Indonesia tidak akan pernah dapat dihilangkan dari peran pemuda. Meski bahkan para penguasa dan pemegang kekuasaan politik menghilangkannya. Sejak Kemerdekaan hingga dengan reformasi, berbagai gerakan-gerakan dengan gagasan merupakan manifestasi dari nasionalisme pemuda bangsa Indonesia. Salah satunya adalah gerakan tanggal 28 Oktober 1928 merupakan momentum sejarah dimana para pemuda menjadi simbol persatuan kaula muda kala itu. Bahkan 28 Oktober selalu diperingati sebagai hari nasional di Indonesia setiap tahunnya untuk mengenang peran pemuda. Dan sebagai contoh yang harapannya memberikan motivasi bagi pemuda di generasi selanjutnya. Namun pada saat ini realitanya nilai-nilai tersebut semakin tergerus dan persatuan pemuda pun ikut retak.

Jika melihat frasa dalam Undang-Undang, maka "Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun" berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2019 tentamg Kepemudaan. Sehingga berdasarkan rentang usia 16-30 tahun, maka pemuda memiliki peran yang sangat vital dalam kemajuan Bangsa Indonesia. Pemuda pula menjadi seolah menjadi juru kunci bagi kelanjutan, keberlangsungan dan kemajuan cita luhur bangsa.



Namun pada era globalisasi dan perkembangan milenialisme, pemuda guyur oleh kemajuan teknologi dan kecepatannya. Membuat para pemuda terkesan kehilangan nalar kritis yang diimbangi oleh adat istiadat dan budaya. Pada kenyataannya seiring dengan derasnya laju globalisasi informasi dan komunikasi pemuda terjangkit virus kultur budaya asing. Diantaranya adalah semakin hedonism, individualis, dan menyatu dalam satu dimensi pragmatisme. Hal ini sudah tidak aneh lagi, lantaran kebebasan media pada saat ini memunculkan budaya pop dikalangan pemuda. 



Secara definitif maka individualis adalah menempatkan kepentingan pribadi menjadi hal paling utama, sedangkan pada saat ini peran pemuda dengan sikap idealisme gotong royong sangat diharapkan demi memberikan kemajuan dalam pembangunan bangsa. Selain itu hedonisme dalam diri pemuda muncul dengan kecerdasannya dalam memanfaatkan berbagai peluang sebagai momentum untuk dijadikan sebagai profit oriented. Hal tersebut guna mencapai pemenuhan nafsu dan perilaku konsumtif pemuda saat ini. Disisi lain bangsa Indonesia membutuhkan kecerdasan pemuda untuk membangun berbagai bidang secara moralitas nilai-nilai nasionalisme.

Hal ini justru akan menkangkangi ucapan salah satu founding father bangsa Indonesia yaitu Bung Karno, "Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia". Mungkin saja dimasa mendatang dengan mengkritalisasinya budaya asing di Indonesia akan mengkiamatkan idealisme pemuda di Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan kemajuan bangsa.



Problematika tersebut terus tumbuh sebagai pragmatisme virus yang kini merebak pemuda bangsa, yang kian hari terus menyebar hingga bahkan dalam hal ini memberanikan argumentasi tegas, bahwa akan terjadi kritalisasi budaya baru yang akhirnya memudarkan budaya lokal. Secara singkat pragmatisme memberikan pengaruh perilaku pemuda yang serba menginginkan hal instant sehingga hal tersebut lahir sebagai budaya konsumtif. Serta nasionalime pemuda yang mulai luntur digoyang oleh sikap acuh tak acuh dan masa bodoh, yang juga dipengaruhi oleh pola berpikir pragmatis yang selalu mengedepankan pribadi ketimbangan kebersamaan.

Hal kuat yang menjadi contoh adalah afiliasi pemuda dengan elit politik diringi orientasi kepentingan pribadi. Sehingga dalam jalannya roda politik di Indonesia telah kehilangan pengawasan pemuda dengan nalar kritis sebagai agent of control. Kemudian prilaku malas memotivasi timbulnya sikap selalu menerima keadaan dengan apa adanya juga membuat Indonesia dan perkembangannya menjadi kehilangan pemuda sebagai agent of change. Hal tersebut terbukti dari perilaku konsumtif pemuda yang hanya mengandalkan produk asing ketimbangan menginovasi dan menghidupkan kreatifitas produk lokal.



Demikian nasionalisme dalam diri pemuda haruslah ditanamkan sejak dini baik itu usia anak dibawah umur yaitu sebelum 18 tahun berdasarkan Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sampai dengan usia pemuda yaitu maksimal 30 tahun berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2019 tentamg Kepemudaan. Sikap bela negara, cinta tanah air, perjuangan bangsa dan hakikat keberlangsungan kemerdekaan Indonesia haruslah menyatu dalam satu dimensi nasionalime pemuda-pemuda bangsa Indonesia sebagai penerus bangsa.

Demikian pemerintah negara Indonesia dan berbagai perangkatnya haruslah sigap dalam menanggapi persoalan nasionalisme pemuda yang kian luntur dan berganti dengan pragmatisme saat ini. Hal yang paling ditakutkan adalah Indonesia mengalami krisis figur P

pemuda sebagai penerus bangsa ataupun krisis kepemimpinan yang mungkin akan terjadi dimasa mendatang. Tentu hal tersebut juga tidak dapat lepas dari peran orang tua, keluarga, dan masyarakat yang juga ikut serta mengedukasi para pemuda bangsa Indonesia. 

Penulis: Suhargo (Pemuda Bangkabelitung)